
<p><em></em></p>
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat. Shalawat dan  salam kita panjatkan kepada penghulu para Nabi, keluarga, sahabatnya,  serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.</em></p>
<p>Islam sungguh indah. Sampai-sampai ketika makanan tersajikan dan  hendak disantap, Islam memiliki aturan di dalamnya. Ini semua dilakukan  agar ada keberkahan ketika makan. Di antara adab sederhana yang  diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika makan  adalah membaca “<em>bismillah</em>”. Berikut penjelasan selengkapnya.</p>
<p><strong>Hadits yang  Membicarakan tentang Membaca “Bismillah”</strong></p>
<p><strong>Hadits pertama</strong></p>
<p>Dari ‘Umar bin Abi Salamah, ia berkata, “<em>Waktu aku masih kecil  dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda, </em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">« يَا غُلاَمُ  سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا  زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ</p>
<p><em>“Wahai Ghulam, bacalah “bismilillah”, makanlah dengan tangan  kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu</em>.” Maka seperti  itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no.  2022)</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah </em>membawakan hadits di atas dalam  kitabnya <em>Al Adzkar</em> pada Bab “<em>Tasmiyah ketika makan dan  minum</em>”.<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn1">[1]</a> Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i <em>rahimahullah </em>mengatakan ketika  menjelaskan perkataan An Nawawi, “Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar  dalam <em>Syarh Al ‘Ubab</em> pada bab rukun-rukun shalat, jika disebut <strong>tasmiyah</strong>,  maka yang dimaksud adalah ucapan “<em>bismillah</em>”. Sedangkan jika  disebut <strong>basmalah</strong>, maka yang dimaksud adalah ucapan “<em>bismillahir  rohmaanir rohiim</em>”.<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Hadits kedua</strong></p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا أَكَلَ  أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ  يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ  أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ</p>
<p>“<em>Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia  menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah  Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa  aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.</em>” (HR. Abu  Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits  tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut  shahih)</p>
<p><strong>Hadits ketiga</strong></p>
<p>Dari Hudzaifah, ia berkata, “<em>Jika kami bersama Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri jamuan makanan, maka tidak ada  seorang pun di antara kami yang meletakkan tangannya hingga Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya. Dan kami pernah bersama beliau  menghadiri jamuan makan, lalu seorang Arab badui datang yang  seolah-oleh ia terdorong, lalu ia meletakkan tangannya pada makanan,  namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangannya.  Kemudian seorang budak wanita datang sepertinya ia terdorong hendak  meletakkan tangannya pada makanan, namun beliau memegang tangannya dan  berkata, </em></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ  الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِى لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ  اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذَا الأَعْرَابِىِّ يَسْتَحِلُّ بِهِ  فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَجَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ يَسْتَحِلُّ بِهَا  فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ لَفِى  يَدِى مَعَ أَيْدِيهِمَا</p>
<p><em>“Sungguh, setan  menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya.  Setan datang bersama orang badui ini, dengannya setan ingin menghalalkan  makanan tersebut, maka aku pegang tangannya. Dan setan tersebut juga  datang bersama budak wanita ini, dengannya ia ingin menghalalkan makanan  tersebut, maka aku pegang tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di  tangan-Nya, sesungguhnya tangan setan tersebut ada di tanganku bersama  tangan mereka berdua</em>.” (HR. Abu Daud no. 3766. Syaikh Al Albani  mengatakan bahwa hadits tersebut <strong><em>shahih</em></strong>)</p>
<p><strong>Hadits keempat</strong></p>
<p>Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَا رَسُولَ  اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ  تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ  وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »</p>
<p>“<em>Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa  kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.”  Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara  bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah  padanya.</em>” (HR. Abu Daud no. 3764. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa  hadits tersebut <strong><em>hasan</em></strong>)</p>
<p><strong>Hadits kelima</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وعن رجل خدم  النبي صلى الله عليه وسلم : أنه كان يسمع النبي صلى الله عليه وسلم إذا قرب  إليه طعاما يقول : بسم الله</p>
<p>Dari seseorang yang mengabdi pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam ketika makanan mendekatinya, beliau mengucapkan “<em>bismillah</em>”.  (Disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Kalimuth Thoyyib  no. 190. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini <strong><em>hasan</em></strong>)</p>
<p>Jika kita melihat dari hadits-hadits yang ada, membaca “<em>bismillah</em>”  ketika hendak makan diperintahkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> dan juga menjadi kebiasaan beliau. Maka sudah sepatutnya  umat Islam yang selalu ingin meneladani beliau, mengikutinya dalam hal  ini.</p>
<p><strong>Apakah Cukup dengan  Ucapan “Bismillah”?</strong></p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqolani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Yang  dimaksud dengan tasmiyah ketika makan adalah bacaan “<em>bismillah</em>”,  ini disebut di awal ketika makan. Dalil yang paling tegas  tentang  maksud  bacaan tasmiyah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud  dan Tirmidzi dari jalan Ummu Kultsum dari ‘Aisyah, marfu’ (sebagai sabda  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>),</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا أَكَلَ  أَحَدكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه ، فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّله  فَلْيَقُلْ : بِسْمِ اللَّه فِي أَوَّله وَآخِره</p>
<p>“<em>Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia  ucapkan “Bismillah”. Jika ia lupa untuk menyebutnya, hendaklah ia  mengucapkan: Bismillaahi fii awwalihu wa aakhirihu (dengan nama Allah  pada awal dan akhirnya)</em>”. Hadits ini memiliki penguat dari hadits  Umayyah bin Makhsyi yang dikeluarkan oleh Abu Dau dan An Nasai. <a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dalam Al Adzkar, An Nawawi <em>rahimahullah </em>menyebutkan, “Suatu  hal yang patut diperhatikan, bagaimanakah ucapan tasmiyah yang dimaksud  dan apa kadar tasmiyah yang mencukupi. Ketahuilah bahwa yang lebih  afdhol, hendaklah mengucapkan “<em>bismillahir rohmanir rohiim</em>”.  Jika hanya mengucapkan “<em>bismillah</em>”, maka itu juga sudah  mencukupi dan sudah dianggap menjalankan sunnah. Bacaan ini boleh  diucapkan oleh orang yang junub, wanita haidh dan lainnya.”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Namun pernyataan An Nawawi <em>rahimahullah </em>di atas yang  menyatakan lebih afdhol dengan “<em>bismillahir rohmanir rohiim</em>”  dikritik oleh Ibnu Hajar Al Asqolani <em>rahimahullah. </em>Beliau  mengatakan, “Aku tidak mengetahui dalil khusus yang menyatakan hal  tersebut lebih afdhol.”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ibnu Hajar juga mengkritisi pernyataan Al Ghozali <em>rahimahumallah</em>.  Ibnu Hajar mengatakan, “Adapun yang dikatakan oleh Al Ghozali ketika  menjelaskan adab makan dalam Al Ihya, di mana ia katakan bahwa pada  suapan pertama, ucapkanlah “<em>bismillah</em>”. Maka ini sungguh baik.  Disunnahkan ketika suapan pertama tadi untuk mengucapkan “<em>bismillah</em>”.  Sedangkan pada suapan kedua, hendaklah mengucapkan “<em>bismillahir  rohman</em>”. Pada suapan ketiga, ucapkanlah “<em>bismillahir rohmanir  rohiim</em>”. Sunnah yang dikatakan oleh Al Ghozali ini, aku menganggap  tidak ada dalilnya.”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Syaikh Al Albani <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Dalam hadits  disebutkan ketika makan hendaklah ucapkan “bismillah”, tanpa adanya  tambahan. Setiap hadits yang shahih yang disebutkan dalam bab kelima  tidak disebutkan ucapan tambahan (selain “bismillah”). Tambahan yang ada  sama sekali tidak disebutkan dalam hadits.”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Al Fakihaani <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Tidak perlu  mengucapkan ar rohman ar rohiim. Namun jika terlanjur menyebutnya, maka  tidak kena dosa apa-apa.”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong> Jika kita perhatikan dari dalil-dalil yang ada (di antaranya hadits  ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha </em>di atas), ucapan yang tepat sebelum  makan cukup dengan “bismillah”, <strong>tanpa “bismillahir rohmanir  rohiim”</strong>.</p>
<p><strong>Ketika Lupa  Mengucapkan “Bismillah”</strong></p>
<p>Sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Aisyah di atas, “<em>Apabila  salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama  Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal,  hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan  nama Allah pada awal dan akhirnya)”.</em>“</p>
<p>Dari hadits ini, diperintahkan ketika seseorang lupa membaca  “bismillah” di awal, hendaklah ia membaca “<em>Bismillaahi awwalahu wa  aakhirohu</em>”.</p>
<p>Dalam Al Adzkar, An Nawawi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Jika  seseorang meninggalkan membaca “bismillah” di awal karena sengaja,  lupa,dipaksa, tidak mampu mengucapkannya karena suatu alasan, lalu ia  mampu mengucapkann di tengah-tengah ia makan, maka ia dianjurkan  mengucapkan “<em>Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu</em>”, sebagaimana  terdapat dalam hadits yang telah disebutkan”.<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Hukum Membaca  “Bismillah” Ketika Makan</strong></p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Para ulama sepakat  (berijma’) bahwa disunnahkan membaca “bismillah” di awal ketika hendak  makan.”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Namun ijma’ (kata sepakat) yang diklaim oleh An Nawawi <em>rahimahullah </em>menuai kritikan dari Ibnu Hajar <em>rahimahullah. </em></p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah </em>dalam <em>Al Fath</em> mengatakan,  “Penukilan ijma’ (sepakat ulama) yang diklaim oleh An Nawawi bahwa  disunnahkan membaca “bismillah” di awal makan adalah klaim yang kurang tepat.  Karena jika itu hanya perbuatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> semata, maka ada kemungkinan dihukumi sunnah. Namun ulama lain  menyatakan bahwa hukum membaca “bismillah” adalah wajib. Alasannya, hal  ini adalah konsekuensi dari pendapat yang menyatakan bahwa makan dengan  tangan kanan adalah wajib. Jika demikian, maka membaca “bismillah” itu  wajib karena sama-sama menggunakan kata perintah dan disebutkan dalam  satu kalimat.”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Yang dimaksud oleh Ibnu Hajar bahwa makan dengan tangan kanan itu  wajib adalah hadits berikut ini,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا أَكَلَ  أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ  بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ  بِشِمَالِهِ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia  makan dengan tangan kanannya. Jika minum, maka hendaknya juga minum  dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan  minum dengan tangan kirinya pula</em>” (HR. Muslim no. 2020). Makan  dengan tangan kanan di sini dihukumi wajib. Walaupun perkara tersebut  bukan perkara non ibadah (perkara adab<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn12">[12]</a>),  namun ada indikasi dalam hadits tersebut bahwa makan atau minum dengan  tangan kiri adalah cara setan ketika makan. Sedangkan kita sendiri  dilarang mengikuti jejak setan karena dia adalah musuh kita. Jika itu  musuh, maka tidak boleh dijadikan teladan.<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Jika jelas bahwa makan dengan tangan kanan itu wajib, maka begitu  pula mengucapkan “bismillah”. Karena perintah membaca bismillah ini  berada satu konteks dengan makan melalui tangan kanan, sebagaimana  haditsnya: “<em>Wahai Ghulam, bacalah Bismilillah, makanlah dengan  tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu</em>”<em>.</em></p>
<p>Intinya, membaca “<em>bismillah</em>” janganlah sampai ditinggalkan  di awal makan. Jika melupakannya hendaklah mengucapkan “<em>bismillah  awwalahu wa akhirohu</em>”.</p>
<p><strong>Kritik: Mengenai Do’a  Makan “Allahumma baarik lanaa …”</strong></p>
<p>Sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi dalam kitabnya <em>Al Adzkar</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">روينا في كتاب  ابن السني عن عبد اللّه بن عمرو بن العاص رضي اللّه عنهما عن النبيّ صلى  اللّه عليه وسلم أنه كان يقول في الطعام إذا قُرِّبَ إليه : ” اللَّهُمَّ  بارِكْ لَنا فِيما رَزَقْتَنا وَقِنا عَذَابَ النَّارِ باسم اللَّهِ “</p>
<p>Telah diriwayatkan dalam kitab Ibnus Sunni dari ‘Abdullah bin ‘Amr  bin Al ‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, dari Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bahwa ketika makanan didekatkan kepadanya, beliau  biasa mengucapkan “<em>Allahumma baarik lanaa fii maa rozaqtanaa wa  qinaa ‘adzaaban naar, bismillah</em>”.</p>
<p>Do’a di atas yang biasa kita dengar dipraktekkan oleh kaum muslimin  di sekitar kita. Namun apakah benar hadits di atas bisa diamalkan?  Padahal jika kita lihat dari hadits-hadits yang ada, cuma dinyatakan  ucapkanlah “bismillah”. Artinya, yang diajarkan Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> cukup sederhana.</p>
<p>Berikut penjelasan mengenai derajat hadits di atas:</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa di dalam riwayat tersebut  terdapat Muhammad bin Abi Az Zu’ayzi’ah, dan Bukhari mengatakan bahwa ia  adalah munkarul hadits.<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Adz Dzahabi mengatakan bahwa di dalam riwayat tersebut terdapat  Muhammad bin Abi Az Zu’ayzi’ah, dan Abu Hatim mengatakan bahwa ia adalah  munkarul hadits jiddan. Begitu pula hal ini dikatakan oleh Imam Al  Bukhari.<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p>‘Ishomuddin Ash Shobabthi menjelaskan dalam takhrij <em>Al Adzkar</em>,  “Hadits tersebut dikeluarkan oleh Ibnu As Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal  Lailah (459) dan sanadnya dho’if. Di dalamnya terdapat ‘Isa bin Al Qosim  ibnu Sami’. Dia adalah perowi yang shoduq akan tetapi sering membuat  kesalahan dan sering melakukan tadlis serta ia dituduh berpaham  qodariyah. Juga diriwayatkan dari Muhammad bin Abi Az Zu’ayzi’ah. Ibnu  Hibban mengatakan bahwa Muhammad bin Abi Az Zu’ayzi’ah adalah dajjal  (pendusta besar).”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong> Dari penjelasan keadaan perowi di atas, kita dapat simpulkan bahwa  hadits di atas adalah <strong>hadits yang dho’if</strong>, <strong>sehingga  tidak bisa diamalkan</strong>. Oleh karena itu, hendaklah kita cukupkan  dengan bacaan yang diajarkan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> sebelum makan yaitu bacaan “bismillah”.</p>
<p><strong>Do’a Ketika Minum Susu</strong></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ  أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ  وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ  اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa:  “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah,  berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya).  Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa:  “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah  kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa  ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan  makan dan minum selain susu.</em>” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no.  3730, Ibnu Majah no. 3322. At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani mengatakan  bahwa hadits ini <strong><em>hasan</em></strong>)</p>
<p><strong>Membaca “Bismillah”  Ketika Minum</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كان يشرب في  ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله  تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga  nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut  nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji)  Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.</em>” (<strong><em>Shahih</em></strong>,  As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)</p>
<p>Maksud hadits di atas adalah ketika minum hendaklah dengan tiga kali  nafas. Pada nafas pertama, sebelum minum ucapkanlah “<em>bismillah</em>”.  Selesai satu nafas, ucapkanlah “<em>alhamdulillah</em>”. Nafas kedua  dan ketiga pun dilakukan seperti itu. Inilah yang disunnahkan ketika  minum.</p>
<p><strong>Do’a Sesudah Makan</strong></p>
<p>Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki  keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut.</p>
<p>Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ أَكَلَ  طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا  وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا  تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan:  “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi  haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah  memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan  dariku), <strong>maka diampuni dosanya yang telah lalu</strong></em>.”  (HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan  gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)</p>
<p>Namun jika mencukupkan dengan ucapan “<em>alhamdulillah</em>” setelah  makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِنَّ اللَّهَ  لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ  عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang  mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum</em>” (HR.  Muslim no. 2734) An Nawawi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “<em>Jika  seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah  dikatakan menjalankan sunnah.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p><strong>Adab Makan dalam  Pembahasan Ini</strong></p>
<p>Dari penjelasan di atas ada beberapa adab ketika makan yang bisa kita  simpulkan:</p>
<ol>
<li>Sebelum      makan, ucapkanlah “<em>bismillah</em>”. Setan akan  menghalalkan makanan yang      tidak dibacakan “bismillah” ketika makan.</li>
<li>Wajibnya      makan dengan tangan kanan.</li>
<li>Makan      secara berjama’ah (bersama-sama dalam satu nampan) akan  lebih barokah.</li>
<li>Makanlah      apa yang ada di hadapan kita, jangan merebut apa yang  di hadapan orang      lain.</li>
<li>Ketika      minum hendaknya dengan tiga kali nafas. Setiap kali  minum, ucapkanlah “<em>bismillah</em>”.      Selesai satu nafas,  ucapkanlah “<em>alhamdulillah</em>”. Cara ini diulang      sampai tiga  kali.</li>
<li>Jika      lupa mengucapkan bismillah di awal, ucapkanlah “<em>bismillahi  awwalahu wa      akhirohu</em>” ketika ingat.</li>
<li>Do’a      ketika mendapat berkah makan: <em>Allaahumma baarik lanaa  fiihi wa      ath’imnaa khoiron minhu.</em>
</li>
<li>Do’a      ketika minum susu: <em>Allaahumma baarik lanaa fiihi wa  zidnaa minhu.</em>
</li>
<li>Setelah      makan ucapkanlah “<em>Alhamdulillaahilladzii ath’amanii  haadzaa wa      razaqaniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin”, </em>atau  cukup      dengan “<em>alhamdulillah</em>”.</li>
</ol>
<p>Sedangkan adab makan lainnya masih perlu dibahas pada tulisan  tersendiri untuk melengkapi pembahasan di atas. Semoga Allah mudahkan.</p>
<p><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</em></p>
<p> </p>
<p>Diselesaikan di Panggang-GK, 18 Rojab 1431 H (01/07/2010)</p>
<p>Artikel <a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p> </p>
<hr>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref1">[1]</a> Al Adzkar, Yahya bin Syarf An Nawawi, hal. 217, Darul Hadits Al  Qohiroh, cetakan 1424 H.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref2">[2]</a> Al Futuhaat Ar Robbaniyah ‘ala Adzkar An Nawawiyah, Ibnu ‘Allan, 5/120,  Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah,cetakan pertama, 1424 H.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref3">[3]</a> Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/521, Darul Ma’rifah,  Beirut, 1379.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref4">[4]</a> Al Adzkar, hal. 219.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref5">[5]</a> Fathul Bari, 9/521.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref6">[6]</a> Idem.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref7">[7]</a> As Silsilah Ash Shohiha no. 71.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref8">[8]</a> Al Futuhaat Ar Robbaniyah, 5/128-129.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref9">[9]</a> Al Adzkar, hal. 219.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref10">[10]</a> Al Adzkar, hal. 219.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref11">[11]</a> Fathul Bari, 9/522.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref12">[12]</a> Sebagian ulama memiliki kaedah: Perintah dalam masalah ibadah dihukumi  wajib kecuali jika ada indikasi yang menunjukkan bahwa perintah tersebut  sunnah. Sedangkan perintah dalam masalah non ibadah (adab dan akhlaq)  dihukumi sunnah kecuali jika ada indikasi yang menunjukkan bahwa  perintah tersebut wajib.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref13">[13]</a> Lihat Manzhumah Ushul Fiqh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin,  hal. 122, Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedua, 1430 H.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref14">[14]</a> Lisanul Mizan, 7/136, dorar.net.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref15">[15]</a> Mizanul I’tidal, 3/549, dorar.net.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref16">[16]</a> Lihat catatan kaki kitab Al Adzkar, hal. 217.</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3105-sebelum-makan-bacalah-bismillah.html#_ftnref17">[17]</a> Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/51, Dar  Ihya’ At Turots, cetakan ketiga, 1392.</p>
<p>Dipublikasikan oleh: <a title="PengusahaMuslim.Com" href="PengusahaMuslim.Com" target="_blank">PengusahaMuslim.Com</a></p>
 